FKIPS NEWS – Dosen Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Sastra (FKIPS) Universitas Islam Makassar (UIM), Dr. Riskal Fitri, M.Pd., menegaskan bahwa warisan budaya Panrita Lopi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai media literasi digital berbasis audio visual bagi anak usia dini.

Pandangan tersebut disampaikan usai mengikuti Workshop Panrita Lopi: Sang Penjaga Warisan Dunia yang diselenggarakan oleh Makassar Heritage Society pada 25–26 Juni 2026 di Losari Beach Hotel, Makassar. Workshop tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Kebudayaan, anggota DPR, pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dunia usaha (CSR), hingga lembaga pemerhati budaya, untuk membahas strategi pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Menurut Dr. Riskal Fitri, warisan budaya pembuatan perahu Pinisi yang lahir dari kearifan Panrita Lopi di Kabupaten Bulukumba merupakan sumber belajar yang sangat kaya dan relevan untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran anak usia dini melalui media digital yang menarik dan edukatif.

“Warisan budaya Panrita Lopi memiliki nilai sejarah, filosofi, dan karakter yang sangat kuat. Nilai-nilai tersebut dapat dikemas menjadi animasi edukatif, video bercerita, e-book interaktif, maupun media pembelajaran digital yang ramah anak sehingga lebih mudah dipahami oleh generasi sejak usia dini,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa selama ini pengetahuan Panrita Lopi lebih banyak diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam bentuk media digital agar warisan budaya tersebut tetap lestari sekaligus mampu menjangkau generasi muda yang tumbuh di era teknologi.

“Pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi. Anak-anak perlu diperkenalkan dengan budaya lokal melalui media yang dekat dengan dunia mereka sehingga nilai-nilai luhur tersebut benar-benar hidup dalam proses pembelajaran sehari-hari,” tambahnya.

Dr. Riskal juga menilai bahwa kisah dan proses pembuatan perahu Pinisi mengandung berbagai nilai karakter yang sangat relevan untuk ditanamkan sejak usia dini, seperti gotong royong, kerja sama, ketekunan, tanggung jawab, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya dan identitas maritim Indonesia.

Menurutnya, keterlibatan akademisi dalam forum-forum kebudayaan seperti Workshop Panrita Lopi menjadi peluang strategis untuk menghubungkan hasil penelitian pendidikan anak usia dini dengan upaya pelestarian budaya lokal melalui inovasi media pembelajaran.

Dukungan Dekan FKIPS

Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., mengapresiasi partisipasi aktif dosen PAUD dalam forum pelestarian budaya tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pendidikan dan budaya merupakan langkah penting dalam menghasilkan inovasi pembelajaran yang kontekstual dan berakar pada kearifan lokal.

“FKIPS UIM terus mendorong dosen untuk mengembangkan riset dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pemanfaatan warisan budaya sebagai media pembelajaran merupakan salah satu bentuk implementasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa,” ungkapnya.

Dukungan Rektor UIM

Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., turut memberikan apresiasi terhadap gagasan yang disampaikan Dr. Riskal Fitri. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga, mengembangkan, dan mentransformasikan warisan budaya menjadi sumber pembelajaran yang inovatif.

“Universitas harus menjadi pelopor dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Gagasan menjadikan Panrita Lopi sebagai media literasi digital bagi anak usia dini merupakan inovasi yang sangat baik karena tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga membentuk karakter generasi muda sejak dini,” tegas Rektor.

Melalui partisipasi dalam Workshop Panrita Lopi, FKIPS UIM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang inovatif, berbasis riset, serta berorientasi pada pelestarian budaya lokal. Diharapkan ke depan terbangun kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas budaya, pemerintah, dan pengembang media pembelajaran untuk menghasilkan konten edukatif yang menarik, bermakna, dan mampu memperkuat literasi budaya anak Indonesia sejak usia dini.