Makassar, FKIPS NEWS — Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Sastra Universitas Islam Makassar (FKIPS UIM) terus memperkuat budaya akademik dan kualitas penelitian mahasiswa. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui Rapat Uji Kelayakan Judul Tugas Akhir Mahasiswa, sebagai tahapan awal untuk memastikan setiap rencana penelitian memiliki arah, relevansi, metodologi, dan kontribusi akademik yang jelas sebelum memasuki tahapan penyusunan proposal.

Rapat uji kelayakan judul menjadi bagian penting dalam mekanisme penyelesaian tugas akhir mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi. Melalui forum tersebut, setiap judul yang diajukan tidak hanya diperiksa dari aspek teknis penulisan, tetapi juga dikaji berdasarkan ketepatan masalah penelitian, kesesuaian dengan bidang keilmuan program studi, ketersediaan data, kemungkinan pelaksanaan penelitian, hingga potensi kontribusinya terhadap pendidikan dan perkembangan teknologi informasi.

Dalam proses tersebut, tim dosen memberikan masukan terhadap fokus penelitian mahasiswa sehingga topik yang dipilih tidak terlalu luas, memiliki objek yang jelas, dan dapat diselesaikan sesuai waktu serta kemampuan akademik mahasiswa.

Beragam tema penelitian mahasiswa PTI FKIPS UIM turut menjadi perhatian dalam proses penelaahan, khususnya topik yang berkaitan dengan teknologi pendidikan, media pembelajaran digital, artificial intelligence, pengembangan aplikasi, sistem informasi, augmented reality, virtual reality, pembelajaran berbasis web dan mobile, serta inovasi teknologi yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.

Ketua Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi FKIPS UIM, Dr. Kamal, menegaskan bahwa uji kelayakan judul merupakan proses akademik yang sangat penting sebelum mahasiswa melanjutkan penelitiannya ke tahap seminar proposal.

“Kami ingin memastikan sejak awal bahwa judul yang dipilih mahasiswa benar-benar memiliki masalah penelitian yang jelas, relevan dengan bidang Pendidikan Teknologi Informasi, dapat dilaksanakan, serta memiliki manfaat akademik maupun praktis. Karena itu, mahasiswa tidak hanya diminta membawa sebuah judul, tetapi harus memahami alasan mengapa penelitian tersebut penting dilakukan,” ungkap Dr. Kamal.

Menurutnya, tugas akhir merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mengintegrasikan pengetahuan pendidikan dengan teknologi informasi yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Dalam rapat tersebut, dosen juga mengarahkan mahasiswa agar tidak sekadar memilih topik yang sedang populer. Topik seperti kecerdasan artifisial, virtual reality, augmented reality, aplikasi pembelajaran, maupun sistem digital tetap harus memiliki dasar masalah yang kuat dan didukung oleh kajian ilmiah.

“Teknologi terus berkembang. Mahasiswa tentu boleh mengangkat AI, VR, AR, aplikasi, atau teknologi lainnya. Namun pertanyaan pentingnya adalah, masalah apa yang ingin diselesaikan? Siapa yang memperoleh manfaat? Apa yang membedakan penelitian tersebut dari penelitian sebelumnya? Hal-hal seperti inilah yang kami arahkan sejak tahap uji kelayakan judul,” lanjutnya.

Melalui mekanisme tersebut, mahasiswa juga mulai diperkenalkan pada pentingnya state of the art, penelusuran penelitian terdahulu, identifikasi research gap, serta penentuan kebaruan atau novelty penelitian. Langkah ini diharapkan dapat membangun kebiasaan mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah berdasarkan literatur yang relevan dan bukan hanya berdasarkan asumsi.

Selain aspek substansi, kelayakan metodologi juga menjadi pertimbangan. Mahasiswa diarahkan memilih metode penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah, baik berupa penelitian pengembangan, eksperimen, kuantitatif, kualitatif, maupun pendekatan lain yang relevan dengan karakter penelitian.

Dekan: Tugas Akhir Harus Menjadi Ruang Mahasiswa Menghasilkan Karya

Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., mengapresiasi langkah Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi dalam melakukan seleksi dan pendampingan judul tugas akhir sejak tahap awal.

Menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu akademik sekaligus bentuk pelayanan kepada mahasiswa agar penelitian yang dilaksanakan memiliki arah yang jelas.

“Uji kelayakan judul bukan dimaksudkan untuk mempersulit mahasiswa. Justru melalui forum seperti ini mahasiswa mendapatkan pendampingan sejak awal agar tidak mengalami terlalu banyak kendala ketika sudah memasuki penelitian. Judul, masalah, metode, dan objek penelitian perlu dipastikan memiliki keterkaitan yang kuat,” ujar Dr. Mulyadi.

Ia menambahkan bahwa tugas akhir seharusnya tidak dipandang hanya sebagai kewajiban administratif menjelang kelulusan, melainkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya yang dapat memberikan solusi terhadap persoalan pendidikan dan masyarakat.

“Kami berharap mahasiswa FKIPS UIM dapat menghasilkan penelitian yang tidak hanya selesai menjadi skripsi di perpustakaan. Kalau memungkinkan, hasilnya dikembangkan menjadi artikel ilmiah, produk pembelajaran, aplikasi, media, atau inovasi yang benar-benar dapat dimanfaatkan,” tambahnya.

Dekan juga mendorong dosen pembimbing untuk terus memberikan pendampingan yang konstruktif sehingga mahasiswa terbiasa berpikir kritis, sistematis, dan memiliki integritas dalam melakukan penelitian.

Rektor UIM Dorong Penelitian Mahasiswa Berorientasi Manfaat

Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., turut memberikan perhatian terhadap penguatan budaya penelitian mahasiswa di lingkungan universitas.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan teknologi dan memanfaatkannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Universitas Islam Makassar terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk membangun budaya akademik yang kuat. Penelitian merupakan bagian penting dari proses pendidikan karena melalui penelitian mahasiswa belajar menemukan masalah, menganalisis, kemudian menawarkan solusi secara ilmiah,” tutur Prof. Muammar Bakry.

Ia berharap inovasi yang dikembangkan mahasiswa UIM, khususnya dalam bidang pendidikan dan teknologi, dapat semakin banyak memberikan kontribusi kepada sekolah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai sektor lainnya.

Belajar Teknologi, Menghasilkan Solusi

Pelaksanaan rapat uji kelayakan judul ini semakin memperlihatkan karakter Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi FKIPS UIM sebagai program studi yang memadukan pendidikan, teknologi, kreativitas, dan penelitian.

Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga diarahkan untuk mengidentifikasi permasalahan, merancang solusi digital, melakukan penelitian, mengembangkan produk, hingga mempertanggungjawabkan hasilnya secara akademik.

Proses tersebut dimulai bahkan sejak sebuah judul tugas akhir diajukan.

Dengan pendampingan dosen dan proses akademik yang terstruktur, FKIPS UIM berupaya memastikan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang tidak berhenti di ruang kuliah.

Belajar di Pendidikan Teknologi Informasi FKIPS UIM berarti tidak hanya belajar tentang teknologi, tetapi belajar bagaimana menggunakan teknologi untuk menciptakan solusi. Dari sebuah ide, diuji menjadi judul, dikembangkan melalui penelitian, hingga akhirnya menjadi karya mahasiswa yang bermanfaat bagi pendidikan dan masyarakat.