MAKASSAR, FKIPS NEWS — Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Sastra Universitas Islam Makassar kembali menghadirkan ruang akademik kolaboratif melalui kegiatan Virtual Domestic Exchange (VDE) bertema “Intercultural Communication and Environmental Literacy”, Selasa, 18 Agustus 2026, mulai pukul 08.30 WITA secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini dirancang sebagai wadah pertemuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mitra di Indonesia untuk membangun komunikasi lintas daerah, memperluas wawasan budaya, serta mendiskusikan persoalan lingkungan dari perspektif lokal yang berbeda-beda.

Melalui pendekatan virtual exchange, peserta tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga terlibat dalam interaksi langsung, diskusi kelompok, sharing budaya daerah, breakout room lintas universitas, hingga presentasi solusi kolaboratif.

Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa agar memiliki pengalaman akademik yang lebih luas, tidak terbatas pada ruang kelas di kampus masing-masing.

Komunikasi Antarbudaya Jadi Fokus Utama

Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah Intercultural Communication yang disampaikan oleh Dr. Jumiati, S.Pd., M.Pd.

Materi tersebut mengajak mahasiswa memahami pentingnya kemampuan berkomunikasi dengan orang-orang dari latar budaya yang berbeda.

Dalam konteks Indonesia yang sangat majemuk, keterampilan komunikasi antarbudaya menjadi sangat relevan, terutama bagi mahasiswa yang kelak akan bekerja, mengajar, berkolaborasi, atau terlibat dalam komunitas yang beragam.

Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu memahami perbedaan cara berkomunikasi, nilai, kebiasaan, ekspresi, hingga cara menyampaikan pendapat dari berbagai daerah.

Kemampuan ini menjadi salah satu soft skill penting di era global karena mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki sikap terbuka, empati, kemampuan mendengar, dan keterampilan membangun hubungan dengan individu dari latar belakang yang berbeda.

Literasi Lingkungan dari Perspektif Daerah

Materi kedua mengangkat tema Environmental Literacy yang dibawakan oleh Dr. Wahyuni, S.Pd., M.Pd.

Pembahasan ini diarahkan pada penguatan kesadaran mahasiswa terhadap isu-isu lingkungan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Setiap wilayah memiliki tantangan lingkungan yang berbeda. Ada daerah yang menghadapi persoalan sampah, banjir, kerusakan pesisir, pencemaran air, perubahan tata guna lahan, hingga persoalan keberlanjutan sumber daya alam.

Melalui forum ini, peserta akan diajak membandingkan persoalan lingkungan dari daerah masing-masing, kemudian mendiskusikan kemungkinan solusi secara kolaboratif.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memahami isu lingkungan sebagai teori, tetapi juga melihatnya sebagai persoalan nyata yang membutuhkan kesadaran, komunikasi, dan kerja sama lintas wilayah.

Bukan Sekadar Webinar, tetapi Pertukaran Pengalaman

Virtual Domestic Exchange dirancang berbeda dari webinar satu arah.

Peserta akan mengikuti sejumlah kegiatan interaktif, seperti icebreaking dan networking mahasiswa antar kampus, sharing budaya daerah, diskusi isu lingkungan lokal, breakout room lintas universitas, presentasi solusi kolaboratif, serta refleksi bersama.

Konsep tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana akademik yang lebih hidup dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk saling mengenal.

Selain mendapatkan wawasan, peserta juga berkesempatan membangun relasi dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain.

Relasi seperti ini menjadi penting karena proses belajar tidak hanya berlangsung melalui dosen dan buku, tetapi juga dapat tumbuh melalui perjumpaan, diskusi, dan pengalaman bersama.

Tiga Dosen Jadi Penanggung Jawab Kegiatan

Kegiatan Virtual Domestic Exchange ini berada di bawah tanggung jawab tiga dosen, yakni:

Dr. Sitti Nurjannah, S.Pd., M.Pd., Dr. Muthmainnah Mursidin, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Kasmawati, S.Pd., M.Pd.

Ketiganya mendorong agar kegiatan ini menjadi ruang belajar yang inklusif dan memberikan pengalaman akademik yang lebih luas bagi mahasiswa.

Dr. Sitti Nurjannah menilai bahwa mahasiswa perlu memiliki pengalaman berinteraksi dengan lingkungan akademik di luar kampusnya sendiri.

“Virtual Domestic Exchange ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya belajar dari lingkungan kampus masing-masing. Mereka dapat bertemu mahasiswa dari daerah lain, mengenal budaya yang berbeda, berdiskusi dalam bahasa Inggris, dan belajar memahami persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih luas,” ujarnya.

Dr. Muthmainnah Mursidin menambahkan bahwa pengalaman komunikasi lintas budaya perlu dibangun sejak mahasiswa berada di bangku kuliah.

“Mahasiswa saat ini akan masuk ke dunia kerja yang semakin terbuka dan kolaboratif. Karena itu, kemampuan komunikasi antarbudaya, kerja sama, dan sikap menghargai perbedaan menjadi sangat penting. Kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk melatih kemampuan tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Kasmawati menekankan bahwa isu lingkungan juga menjadi bagian penting dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Literasi lingkungan bukan hanya tentang mengetahui masalah, tetapi bagaimana mahasiswa memiliki kepedulian, mampu melihat persoalan di daerahnya, lalu berdiskusi dan mencari solusi bersama,” tambahnya.

Dekan FKIPS UIM: Mahasiswa Harus Punya Pengalaman Belajar yang Lebih Luas

Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan Virtual Domestic Exchange tersebut.

Menurutnya, kegiatan akademik lintas perguruan tinggi sangat penting dalam membangun wawasan dan pengalaman mahasiswa.

“Kami sangat mendukung kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mahasiswa perlu memiliki pengalaman belajar yang lebih luas, tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui kolaborasi, diskusi, dan interaksi dengan mahasiswa dari daerah lain,” ujar Dr. Mulyadi.

Ia menambahkan bahwa kemampuan komunikasi, kolaborasi, literasi, dan kepedulian terhadap persoalan lingkungan merupakan kompetensi yang semakin dibutuhkan.

“Kampus harus memberi ruang bagi mahasiswa untuk membangun soft skills. Kegiatan seperti ini sangat baik karena mahasiswa belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyampaikan gagasan, serta memahami perbedaan,” lanjutnya.

Rektor UIM Dorong Kolaborasi Akademik Lintas Kampus

Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang mendorong kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi.

Menurutnya, pendidikan tinggi perlu terus membuka ruang kerja sama agar mahasiswa memiliki perspektif yang lebih luas dan mampu menghadapi tantangan global.

“Universitas Islam Makassar terus mendorong kegiatan yang membangun kolaborasi, memperluas jejaring, dan memperkuat kompetensi mahasiswa. Virtual exchange seperti ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman,” ungkap Prof. Muammar Bakry.

Ia berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk membangun relasi, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan memperluas wawasan kebangsaan.

Pengalaman Akademik Nasional dalam Satu Ruang Virtual

Peserta kegiatan merupakan mahasiswa aktif dari perguruan tinggi mitra di Indonesia.

Selain memperoleh pengalaman Virtual Exchange, peserta juga mendapatkan sejumlah manfaat, antara lain e-certificate, relasi nasional lintas kampus, peningkatan soft skills komunikasi dan kolaborasi, serta wawasan budaya dan lingkungan Indonesia.

Kegiatan ini menjadi salah satu bukti bahwa proses belajar di era digital dapat dilakukan dengan cara yang lebih terbuka dan kolaboratif.

Mahasiswa dapat bertemu, berdiskusi, dan bekerja sama tanpa harus berada di lokasi yang sama.

Bagi FKIPS UIM, Virtual Domestic Exchange juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan nuansa akademik yang lebih dinamis, inklusif, dan berjejaring.

Belajar di FKIPS UIM berarti tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga mendapatkan ruang untuk berkolaborasi, berkomunikasi lintas budaya, memahami isu lingkungan, dan membangun jejaring akademik nasional. Dari ruang virtual, mahasiswa FKIPS UIM terus dipersiapkan menjadi generasi yang terbuka, adaptif, peduli, dan mampu bekerja sama dalam keberagaman.