MAKASSAR, FKIPS NEWS, 15 September 2026 — Mahasiswa PPG Calon Guru 2025 Universitas Islam Makassar (UIM) memperkuat pengalaman belajar melalui rangkaian observasi lapangan dan studi komparatif sebagai bagian dari Mata Kuliah Projek Kepemimpinan. Kegiatan dilaksanakan di TK Islam Al-Azhar 34 Makassar pada 9 September 2026 dan dilanjutkan di Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar pada 11 September 2026.

Observasi tersebut diarahkan untuk menggali pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi dalam merancang Projek Kepemimpinan bertema Green School. Mahasiswa tidak hanya melihat konsep sekolah hijau dari sisi penghijauan, tetapi juga mempelajari bagaimana pembelajaran dapat menghubungkan peserta didik dengan lingkungan, pangan sehat, kreativitas, kewirausahaan sederhana, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Belajar Green School dari Tanaman Pakcoy

Pada kunjungan pertama di TK Islam Al-Azhar 34 Makassar, mahasiswa mengamati pembelajaran berbasis pengalaman melalui kegiatan budidaya pakcoy.

Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada tanaman melalui penjelasan di kelas. Mereka dilibatkan langsung dalam proses menanam, merawat, dan mengamati pertumbuhan tanaman menggunakan pot, bibit, celemek, serta peralatan sederhana yang disiapkan sekolah.

Melalui proses tersebut, anak belajar bahwa tanaman memerlukan air, perhatian, dan perawatan agar dapat tumbuh dengan baik.

Kegiatan tidak berhenti ketika bibit selesai ditanam. Proses perawatan dan pengamatan berlangsung sekitar empat minggu. Anak-anak diajak memperhatikan perubahan tanaman, mulai dari pertumbuhan daun, tunas, hingga batang. Perubahan tersebut dapat dicatat melalui tabel sederhana maupun didokumentasikan melalui foto.

Menariknya, pengalaman menanam juga memberikan dampak terhadap kebiasaan makan anak. Anak yang sebelumnya kurang menyukai sayuran mulai bersedia mengonsumsi pakcoy setelah terlibat langsung dalam proses menanam dan merawatnya.

Guru TK Islam Al-Azhar 34 Makassar, Susilawati, menjelaskan bahwa keterlibatan langsung membuat pengalaman belajar anak menjadi lebih bermakna.

“Ketika anak ikut menanam, merawat, mengamati, sampai melihat hasilnya, anak mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna karena mereka terlibat langsung dalam seluruh proses pembelajaran,” ungkap Susilawati.

Aktivitas tersebut sekaligus menjadi sarana menanamkan nilai tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, kerja sama, dan pola hidup sehat sejak usia dini.

Dari Kebun hingga Market Day

Pembelajaran pakcoy juga dikembangkan menjadi rangkaian kegiatan lain yang saling terhubung.

Anak dapat mengikuti aktivitas seperti kunjungan atau belanja ke supermarket, cooking class, hingga market day. Hasil tanaman maupun bahan yang diperoleh kemudian dimanfaatkan dalam kegiatan pengolahan makanan.

Melalui market day, anak memperoleh kesempatan untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, menjalankan peran, serta mengenal konsep sederhana mengenai jual beli.

Dengan dukungan orang tua, beberapa produk makanan dan hasil kerajinan dijual dengan harga yang tetap terjangkau, maksimal sekitar Rp15.000.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa satu tema sederhana seperti tanaman pakcoy dapat dikembangkan menjadi pembelajaran lintas aspek, mulai dari sains, kesehatan, bahasa, sosial, karakter, hingga kewirausahaan.

Mahasiswa Belajar Budidaya Jamur Tiram di Fakultas Pertanian UIM

Rangkaian observasi kemudian berlanjut di Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperoleh penjelasan dari Ichwan mengenai proses budidaya jamur tiram, mulai dari pembuatan media, pemeliharaan, proses panen, hingga pemanfaatan hasil.

Media budidaya jamur dijelaskan menggunakan komposisi serbuk kayu, dedak, dan kapur dengan perbandingan 100:10:1. Media dapat dimanfaatkan sekitar tiga hingga empat bulan, dengan frekuensi panen sekitar satu hingga dua kali per bulan dan dapat mencapai beberapa kali panen selama masa produktif.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada pengembangan hasil jamur tiram menjadi berbagai produk pangan seperti bakso, nugget, burger, kerupuk, pangsit, dan tahu.

Tidak hanya hasil panennya, sisa media budidaya pun dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Hal tersebut memberikan gambaran nyata mengenai prinsip pemanfaatan sumber daya dan pengurangan limbah yang relevan dengan konsep Green School.

Aspek keamanan pangan turut menjadi perhatian. Mahasiswa mendapat pemahaman bahwa jamur yang tumbuh pada lingkungan kotor atau tidak layak tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. Dalam sesi tersebut juga disampaikan pesan sederhana namun menarik, yakni “jamur yang cantik cenderung lebih berbahaya”, sebagai pengingat pentingnya memahami karakteristik jamur sebelum memanfaatkannya.

Projek Kepemimpinan Tidak Berhenti pada Produk

Dua lokasi observasi memberikan pengalaman yang saling melengkapi.

TK Islam Al-Azhar 34 Makassar memperlihatkan bagaimana pembelajaran lingkungan dapat dimulai dari aktivitas sederhana dan dikembangkan menjadi rangkaian pengalaman yang utuh: menanam, merawat, mengamati, mengonsumsi, mengolah, hingga memasarkan hasil.

Sementara itu, Fakultas Pertanian UIM memberikan perspektif mengenai proses produksi pangan, pengolahan hasil, dan pemanfaatan kembali sisa media budidaya.

Dari dua pengalaman tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa Green School tidak cukup dimaknai sebagai sekolah yang memiliki banyak tanaman.

Konsep tersebut dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran yang membangun kepedulian lingkungan, pola hidup sehat, kreativitas, kerja sama, tanggung jawab, dan keberlanjutan.

Dekan FKIPS: Calon Guru Harus Belajar dari Praktik Nyata

Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., mengapresiasi kegiatan observasi lapangan mahasiswa PPG Calon Guru.

Menurutnya, mahasiswa calon guru memerlukan pengalaman yang mempertemukan teori dengan praktik nyata.

“Calon guru tidak cukup hanya memahami konsep dari ruang kelas. Mereka perlu melihat praktik baik, mengamati langsung, kemudian merefleksikannya menjadi desain pembelajaran dan projek yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kegiatan seperti ini memperkaya perspektif mahasiswa sebelum mereka benar-benar menjalankan peran sebagai pendidik,” ujar Dr. Mulyadi.

Ia berharap hasil observasi tidak berhenti pada laporan, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi Projek Kepemimpinan yang kreatif dan berdampak.

Rektor UIM: Pendidikan Harus Dekat dengan Kehidupan

Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., juga mendorong pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa.

“Pendidikan akan semakin bermakna ketika ilmu yang dipelajari dapat dihubungkan dengan kehidupan. Mahasiswa calon guru harus memiliki kreativitas untuk menjadikan lingkungan, masyarakat, dan berbagai sumber daya di sekitarnya sebagai bagian dari proses belajar,” ungkap Prof. Muammar Bakry.

Rangkaian observasi ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa PPG Calon Guru 2025 UIM dalam mempersiapkan projek yang tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga dapat diterapkan dan memberikan manfaat.

Melalui Projek Kepemimpinan, mahasiswa PPG UIM tidak hanya dipersiapkan menjadi guru yang mampu mengajar, tetapi juga calon pendidik yang mampu memimpin perubahan, menciptakan pembelajaran bermakna, serta menumbuhkan generasi yang sehat, kreatif, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan.