Dosen PAUD UIM Jadi Pemateri Kuliah Umum PGPAUD FIP UNM, Bahas Pendidikan Interdisipliner “Beyond AI”
MAKASSAR, FKIPS NEWS — Kiprah akademik dosen Universitas Islam Makassar kembali mendapat ruang dalam forum ilmiah lintas perguruan tinggi. Dr. Sadaruddin, M.Pd., dosen bidang Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Islam Makassar, tampil sebagai pemateri dalam Kuliah Umum Jurusan PGPAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (FIP UNM) yang dilaksanakan pada 18 Agustus 2026.
Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Beyond AI: Pendidikan Interdisipliner untuk Tumbuh Kembang Anak yang Holistik, Aman, dan Berkarakter.”
Tema ini menempatkan perkembangan kecerdasan artifisial tidak sekadar sebagai isu teknologi, tetapi sebagai pintu masuk untuk membahas bagaimana pendidikan anak usia dini tetap harus berpusat pada kebutuhan tumbuh kembang anak secara utuh.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Sadaruddin hadir bersama sejumlah pemateri dan unsur pimpinan pendidikan, antara lain Dr. Arman Agung, S.Pd., M.Pd., Kepala BBGTK Provinsi Sulawesi Selatan, serta Dr. Muhammad Akil Musi, S.Pd., M.Pd., Ketua Jurusan PGPAUD FIP UNM. Kegiatan juga berada dalam lingkungan akademik FIP UNM di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Abdul Saman, M.Si., Kons.
Beyond AI: Teknologi Tidak Boleh Menggeser Kebutuhan Dasar Anak
Dalam perkembangan pendidikan saat ini, penggunaan artificial intelligence mulai hadir dalam berbagai aktivitas pembelajaran. Namun, bagi pendidikan anak usia dini, penggunaan teknologi perlu ditempatkan secara lebih hati-hati karena perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan kognitif.
Anak membutuhkan interaksi sosial, rasa aman, stimulasi bahasa, pengalaman bermain, aktivitas motorik, pembentukan karakter, keterlibatan keluarga, hingga lingkungan belajar yang mendukung perkembangan emosional.
Melalui tema “Beyond AI”, pendidikan diarahkan untuk melihat kebutuhan anak secara lebih luas.
Dr. Sadaruddin menekankan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus tetap mempertimbangkan karakteristik perkembangan anak.
“Artificial intelligence dapat menjadi alat bantu dalam pendidikan, tetapi pendidikan anak usia dini tidak boleh kehilangan aspek kemanusiaan. Anak tumbuh melalui interaksi, bermain, komunikasi, keteladanan, rasa aman, dan pengalaman nyata. Karena itu, teknologi harus ditempatkan sebagai pendukung, bukan menggantikan proses tumbuh kembang anak,” ungkap Dr. Sadaruddin.
Menurutnya, pendekatan interdisipliner menjadi semakin penting karena tumbuh kembang anak tidak dapat dilihat hanya dari satu perspektif.
Pendidikan anak usia dini bersentuhan dengan psikologi perkembangan, kesehatan, teknologi, bahasa, sosial budaya, perlindungan anak, seni, hingga keterlibatan keluarga.
“Ketika kita berbicara tentang anak, kita tidak bisa hanya berbicara tentang pembelajaran di dalam kelas. Kita juga harus melihat kesehatan, lingkungan keluarga, sosial budaya, keamanan digital, perkembangan emosional, hingga karakter. Karena itu, pendidikan anak membutuhkan kolaborasi lintas bidang,” tambahnya.
Pendidikan Anak Harus Holistik, Aman, dan Berkarakter
Tiga kata kunci dalam kuliah umum tersebut adalah holistik, aman, dan berkarakter.
Holistik berarti pendidikan harus memperhatikan seluruh aspek perkembangan anak secara seimbang.
Aman berarti proses pendidikan, termasuk pemanfaatan teknologi digital, harus melindungi anak dari berbagai risiko.
Sementara berkarakter menempatkan nilai, kebiasaan baik, empati, tanggung jawab, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain sebagai fondasi penting dalam pendidikan.
Dalam konteks perkembangan AI, keamanan anak juga menjadi isu yang semakin relevan. Anak dapat terpapar teknologi sejak usia sangat dini, sehingga guru dan orang tua perlu memahami bagaimana teknologi digunakan secara tepat.
Dr. Sadaruddin menilai bahwa pendidik perlu memiliki literasi digital yang cukup agar mampu menentukan teknologi mana yang benar-benar memberikan manfaat bagi anak.
“Tidak semua teknologi harus langsung diberikan kepada anak hanya karena teknologi tersebut baru atau sedang populer. Pendidik harus melihat usia anak, tujuan pembelajaran, keamanan, durasi penggunaan, dan dampaknya terhadap perkembangan,” jelasnya.
Kolaborasi UIM dan UNM Perkuat Jejaring Akademik
Kehadiran Dr. Sadaruddin sebagai pemateri juga memperlihatkan hubungan akademik yang terus berkembang antara Universitas Islam Makassar dan Universitas Negeri Makassar.
Forum seperti kuliah umum membuka ruang bagi akademisi dari berbagai institusi untuk bertukar pengalaman, mendiskusikan hasil penelitian, serta membangun perspektif baru dalam pengembangan pendidikan anak usia dini.
Bagi mahasiswa, kesempatan belajar dari akademisi lintas perguruan tinggi memberikan pengalaman akademik yang lebih luas.
Mereka tidak hanya memperoleh materi dari dosen di lingkungan kampus sendiri, tetapi juga mendapatkan perspektif dari akademisi yang memiliki latar pengalaman dan kajian berbeda.
Dekan FKIPS UIM: Dosen Harus Hadir Membawa Gagasan
Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., memberikan apresiasi terhadap kepercayaan yang diberikan kepada Dr. Sadaruddin untuk menjadi pemateri dalam kuliah umum PGPAUD FIP UNM.
Menurutnya, keikutsertaan dosen dalam forum akademik di luar kampus menjadi bagian penting dari pengembangan kapasitas dan jejaring institusi.
“Kami mengapresiasi Dr. Sadaruddin yang kembali dipercaya berbagi gagasan dalam forum akademik. Dosen harus terus hadir dalam berbagai ruang ilmiah, membawa hasil kajian, pengalaman, dan pemikirannya untuk didiskusikan bersama akademisi dari perguruan tinggi lain,” ujar Dr. Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa aktivitas dosen di luar kampus juga memberikan dampak positif bagi mahasiswa.
“Pengalaman yang diperoleh dosen dari forum ilmiah akan kembali ke ruang kelas. Mahasiswa akan belajar dari dosen yang terus mengikuti perkembangan keilmuan dan aktif membangun jejaring akademik,” lanjutnya.
Rektor UIM Apresiasi Kolaborasi Akademik
Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., turut memberikan apresiasi terhadap keterlibatan dosen UIM dalam kegiatan akademik lintas perguruan tinggi.
Menurutnya, kolaborasi menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan mutu pendidikan tinggi.
“Universitas Islam Makassar terus mendorong dosen untuk aktif dalam berbagai forum ilmiah dan membangun kerja sama dengan perguruan tinggi lain. Pertukaran gagasan seperti ini sangat penting untuk memperkuat tridarma dan memperluas kontribusi akademik universitas,” ungkap Prof. Muammar Bakry.
Ia berharap dosen UIM terus membawa gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Dari AI Kembali pada Hakikat Pendidikan Anak
Kuliah umum bertema “Beyond AI” menghadirkan pesan penting bahwa perkembangan teknologi tidak boleh membuat pendidikan kehilangan fokus pada manusia.
Dalam pendidikan anak usia dini, teknologi harus tetap ditempatkan di bawah prinsip perkembangan anak, keamanan, karakter, dan kebutuhan sosial emosional.
Kehadiran Dr. Sadaruddin sebagai pemateri semakin memperlihatkan bahwa dosen UIM aktif berkontribusi dalam diskusi akademik mengenai arah pendidikan masa depan.
Belajar di lingkungan FKIPS UIM berarti belajar bersama dosen yang tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga aktif berbagi gagasan di forum akademik, membangun jejaring, serta mengikuti perkembangan isu pendidikan dari AI hingga tumbuh kembang anak. Dari FKIPS UIM, gagasan terus bergerak untuk pendidikan yang lebih holistik, aman, dan berkarakter.

