Dua Dosen PBI FKIPS UIM Lolos Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan 2026, Angkat Tradisi Mappatamma dan Sayyang Pattu’duq
MAKASSAR, FKIPS NEWS — Kabar membanggakan kembali datang dari Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Sastra Universitas Islam Makassar (FKIPS UIM). Dua dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Dr. Muthmainnah Mursidin dan Dr. Sitti Nurjannah, dinyatakan lolos dalam Program Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2026, pada kategori Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya.
Program yang berhasil memperoleh dukungan tersebut mengangkat tema “Revitalisasi Tradisi Mappatamma melalui Sayyang Pattu’duq sebagai Upaya Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Warisan Budaya Takbenda Masyarakat Mandar Sulawesi Barat.”
Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi FKIPS UIM karena menunjukkan bahwa kiprah dosen tidak hanya berkembang dalam pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga menjangkau penelitian, kajian kebudayaan, pelestarian tradisi, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat.
Secara resmi, Dana Indonesia Raya 2026 merupakan program dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk memperkuat ekosistem kebudayaan. Salah satu skemanya adalah Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya yang dapat menghasilkan luaran antara lain publikasi ilmiah, naskah akademik, buku, hingga film atau video.
Mappatamma dan Sayyang Pattu’duq Dibawa ke Ruang Kajian Akademik
Tema yang diangkat memiliki kedekatan kuat dengan identitas budaya masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Mappatamma dan tradisi Sayyang Pattu’duq tidak hanya hadir sebagai praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga menyimpan nilai pendidikan, keagamaan, sosial, kebersamaan, identitas, serta pengetahuan lokal yang penting untuk terus dijaga.
Melalui kajian tersebut, tradisi lokal tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai warisan budaya hidup yang perlu dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara tepat agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Keberhasilan proposal ini juga menunjukkan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam proses pemajuan kebudayaan. Kampus dapat mengambil peran melalui dokumentasi, penelitian, publikasi, pengembangan model pelestarian, hingga penyebarluasan pengetahuan tentang budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
Dr. Muthmainnah Mursidin menyampaikan bahwa keberhasilan memperoleh dukungan program tersebut menjadi motivasi untuk menghadirkan penelitian yang tidak berhenti pada laporan akademik, tetapi mempunyai dampak terhadap keberlanjutan kebudayaan masyarakat.
“Alhamdulillah, capaian ini menjadi amanah bagi kami untuk mengkaji tradisi Mappatamma dan Sayyang Pattu’duq secara lebih mendalam. Kami berharap kajian ini tidak hanya menghasilkan dokumentasi dan publikasi ilmiah, tetapi juga ikut memperkuat upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya masyarakat Mandar agar terus dikenal oleh generasi muda,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Sitti Nurjannah menilai bahwa keterlibatan akademisi dalam pelestarian kebudayaan menjadi semakin penting di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
“Warisan budaya perlu terus diperkenalkan dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman. Perguruan tinggi memiliki ruang untuk menghubungkan penelitian, pendidikan, dan pengabdian sehingga tradisi yang hidup di masyarakat tetap memiliki keberlanjutan dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Dekan FKIPS UIM: Dosen Harus Hadir dan Memberikan Dampak
Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., memberikan apresiasi atas keberhasilan dua dosen Pendidikan Bahasa Inggris tersebut menembus program pendanaan Kementerian Kebudayaan RI.
Menurutnya, capaian itu sekaligus menunjukkan bahwa dosen FKIPS UIM terus memperluas kontribusinya dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
“Kami mengucapkan selamat kepada Dr. Muthmainnah Mursidin dan Dr. Sitti Nurjannah. Ini merupakan capaian yang membanggakan bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan FKIPS UIM. Yang lebih penting, tema yang diangkat bersentuhan langsung dengan pelindungan kebudayaan masyarakat. Kami terus mendorong dosen agar penelitian dan karya akademiknya benar-benar hadir dan memberikan dampak,” ujar Dr. Mulyadi.
Ia menilai keterlibatan dosen dalam program kompetitif tingkat nasional seperti Dana Indonesia Raya akan memperkuat budaya penelitian sekaligus memberikan pengalaman akademik yang dapat dibawa kembali dalam proses pembelajaran mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa perlu belajar bersama dosen yang aktif mengembangkan ilmu, melakukan penelitian, berkolaborasi, serta berinteraksi langsung dengan persoalan yang terdapat di tengah masyarakat.
Rektor UIM: Perguruan Tinggi Harus Berperan Menjaga Warisan Budaya
Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., turut mengapresiasi keberhasilan dosen FKIPS UIM dalam program Kementerian Kebudayaan tersebut.
Ia menilai kebudayaan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang memerlukan perhatian bersama, termasuk dari kalangan akademisi dan perguruan tinggi.
“Universitas Islam Makassar memberikan apresiasi kepada para dosen yang terus menghasilkan karya dan memperoleh kepercayaan melalui berbagai program nasional. Kajian mengenai kebudayaan seperti ini sangat penting karena perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga pengetahuan, nilai, dan warisan masyarakat agar tetap hidup serta memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang,” ungkap Prof. Muammar Bakry.
Rektor berharap keberhasilan tersebut menjadi pemantik bagi dosen lain di lingkungan UIM untuk semakin aktif mengikuti program penelitian, pengabdian, kebudayaan, dan berbagai skema kompetitif nasional.
Dana Indonesia Raya sendiri merupakan program Pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan yang dijalankan melalui kolaborasi Kementerian Kebudayaan dan LPDP, dengan beragam skema dukungan bagi pelaku dan ekosistem kebudayaan Indonesia. Untuk periode 2026, program tersebut diperluas dalam sejumlah kategori pendanaan.
Dari Ruang Kuliah, Penelitian hingga Pelestarian Budaya
Keberhasilan Dr. Muthmainnah Mursidin dan Dr. Sitti Nurjannah menembus Dana Indonesia Raya 2026 semakin menambah warna aktivitas akademik dosen FKIPS UIM.
Capaian tersebut juga menghadirkan pesan penting bagi mahasiswa: keilmuan yang dipelajari di perguruan tinggi tidak harus berhenti pada teori. Bahasa, pendidikan, penelitian, teknologi, dan kebudayaan dapat bertemu untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Bagi FKIPS UIM, dosen yang aktif memenangkan program kompetitif, melakukan penelitian, menulis dan mempublikasikan karya, terlibat dalam pengabdian, serta mengangkat kekayaan budaya lokal merupakan bagian dari lingkungan akademik yang ingin terus dibangun.
Belajar di FKIPS UIM berarti belajar bersama dosen yang tidak hanya hadir di depan kelas, tetapi juga turun meneliti, menjaga kebudayaan, membangun kolaborasi, dan membawa gagasan lokal ke ruang yang lebih luas. Dari FKIPS UIM, ilmu pengetahuan bergerak untuk pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan Indonesia.

