Ketua Prodi PBSI FKIPS UIM Jadi Pemakalah Seminar Internasional IKAPROBSI 2026, Angkat Literasi dan Karakter Generasi Muda di Era Digital
MAKASSAR, FKIPS NEWS — Kiprah akademik Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Sastra Universitas Islam Makassar kembali mendapat ruang dalam forum ilmiah berskala internasional. Ketua Prodi PBSI FKIPS UIM, Erniati, S.Pd., M.Pd., tampil sebagai pemakalah pada RAKORNAS X dan Seminar Internasional IKAPROBSI 2026 yang berlangsung di Makassar, 7–9 Agustus 2026.
Dalam forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, pengelola program studi, dan pemerhati Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut, Erniati mempresentasikan makalah berjudul “Penguatan Literasi Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Strategi Pembentukan Karakter Generasi Muda di Era Digital.”
Topik tersebut menyoroti pentingnya literasi bahasa dan sastra sebagai fondasi dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan membaca dan memahami informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan sosial, berkarakter, serta bijak dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda memperoleh, mengolah, dan menyebarkan informasi. Di satu sisi, teknologi membuka akses pengetahuan yang semakin luas. Namun di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada tantangan berupa banjir informasi, hoaks, perubahan pola komunikasi, rendahnya kemampuan memahami informasi secara mendalam, hingga munculnya berbagai persoalan etika dalam penggunaan media digital.
Dalam konteks tersebut, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dinilai memiliki posisi strategis. Bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga sarana membangun kemampuan berpikir, sedangkan karya sastra dapat menjadi media untuk menumbuhkan empati, nilai kemanusiaan, budaya, dan karakter.
Literasi Tak Cukup Hanya Bisa Membaca
Erniati menjelaskan bahwa literasi pada era digital harus dipahami secara lebih luas. Kemampuan membaca teks perlu diikuti dengan kemampuan memahami konteks, mengevaluasi informasi, mengidentifikasi bias, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Menurutnya, pembelajaran bahasa dan sastra dapat menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kemampuan tersebut.
“Literasi di era digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Generasi muda perlu memiliki kemampuan memahami informasi secara kritis, menyaring informasi, mengomunikasikan gagasan dengan baik, serta memiliki karakter dalam menggunakan teknologi. Bahasa dan sastra memiliki peran yang sangat penting dalam proses tersebut,” ujar Erniati.
Ia menilai karya sastra juga memiliki kekuatan dalam membentuk karakter karena menghadirkan berbagai pengalaman kemanusiaan, nilai sosial, budaya, moral, dan kehidupan melalui cerita, puisi, drama, maupun bentuk karya lainnya.
Melalui pembelajaran sastra yang kontekstual, mahasiswa dan peserta didik dapat diajak untuk memahami berbagai perspektif, membangun empati, sekaligus merefleksikan nilai-nilai yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi karakter tetap menjadi fondasi. Karena itu, literasi bahasa dan sastra perlu terus diperkuat agar generasi muda tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam memanfaatkannya,” lanjutnya.
Dari Akreditasi Unggul ke Kontribusi Akademik
Keikutsertaan Ketua Prodi PBSI sebagai pemakalah dalam Seminar Internasional IKAPROBSI 2026 menjadi bagian dari komitmen program studi untuk terus mengembangkan budaya akademik.
Sebagai program studi yang telah meraih Akreditasi Unggul, PBSI FKIPS UIM terus mendorong sivitas akademika untuk aktif dalam kegiatan penelitian, publikasi ilmiah, seminar, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai forum akademik nasional maupun internasional.
Bagi Erniati, capaian akreditasi bukan sekadar penghargaan terhadap kualitas yang telah dicapai, tetapi juga tanggung jawab untuk terus mempertahankan dan meningkatkan mutu.
“Akreditasi Unggul menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya. Program studi harus terus hadir dalam forum akademik, membangun jejaring, melakukan penelitian, dan menghasilkan gagasan yang dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,” jelasnya.
Forum IKAPROBSI juga menjadi ruang penting untuk bertukar gagasan dan pengalaman dengan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Melalui interaksi tersebut, peluang kolaborasi dalam penelitian, publikasi, pengembangan kurikulum, maupun kegiatan mahasiswa dapat semakin terbuka.
Dekan FKIPS UIM: Dosen Tidak Hanya Mengajar, tetapi Harus Hadir Membawa Gagasan
Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., memberikan apresiasi atas kiprah Ketua Prodi PBSI sebagai pemakalah dalam forum internasional tersebut.
Menurutnya, partisipasi dosen dalam forum ilmiah merupakan salah satu indikator hidupnya budaya akademik di perguruan tinggi.
“Kami memberikan apresiasi kepada Ibu Erniati yang tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi pemakalah dalam Seminar Internasional IKAPROBSI. Dosen dan pimpinan program studi harus terus hadir membawa gagasan, hasil penelitian, dan pengalaman akademiknya ke berbagai forum ilmiah,” ujar Dr. Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa aktivitas akademik dosen akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran mahasiswa.
Pengalaman mengikuti seminar, melakukan penelitian, menyusun karya ilmiah, dan berdiskusi dengan akademisi dari berbagai perguruan tinggi dapat dibawa kembali ke ruang kelas sebagai pengetahuan dan perspektif baru.
“Inilah yang terus kami dorong di FKIPS UIM. Mahasiswa harus belajar bersama dosen yang aktif berkarya. Semakin banyak pengalaman akademik yang dimiliki dosen, semakin kaya pula pengalaman belajar yang dapat diberikan kepada mahasiswa,” tambahnya.
Rektor UIM Apresiasi Kiprah Akademik Dosen
Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., turut mengapresiasi keterlibatan sivitas akademika UIM dalam forum ilmiah nasional dan internasional.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu terus memperkuat budaya penelitian, publikasi, kolaborasi, dan pertukaran gagasan agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“Universitas Islam Makassar terus mendorong dosen untuk aktif dalam berbagai forum akademik. Kehadiran dosen sebagai pemakalah menunjukkan bahwa sivitas akademika UIM tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga turut menyampaikan gagasan dan memberikan kontribusi dalam pengembangan keilmuan,” ungkap Prof. Muammar Bakry.
Ia berharap aktivitas tersebut terus dikembangkan sehingga reputasi akademik UIM semakin kuat dan jejaring kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi semakin luas.
PBSI FKIPS UIM: Belajar Bersama Dosen yang Berkarya
Keikutsertaan Erniati sebagai pemakalah dalam Seminar Internasional IKAPROBSI 2026 semakin mempertegas arah pengembangan PBSI FKIPS UIM sebagai program studi yang tidak hanya unggul dalam akreditasi, tetapi juga aktif membangun budaya akademik dan jejaring keilmuan.
Bagi mahasiswa, aktivitas dosen dalam berbagai forum ilmiah memberikan kesempatan untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih aktual. Gagasan, hasil penelitian, dan pengalaman akademik dosen dapat menjadi sumber belajar yang memperkaya proses perkuliahan.
PBSI FKIPS UIM terus berupaya mempersiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai kompetensi sebagai pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi, literasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi.
Belajar di PBSI FKIPS UIM berarti belajar di Program Studi ber-Akreditasi Unggul bersama dosen yang aktif meneliti, menulis, berjejaring, dan membawa gagasannya ke forum nasional hingga internasional. PBSI FKIPS UIM — Unggul, Berdaya Saing, Berjejaring, dan Berdampak.

